Raih Laba Rp6,19 Triliun di 2025, Danantara Dukung Transformasi Bisnis PalmCo

Pekerja memindahkan buah kelapa sawit dari perkebunan ke truk pengangkut di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Bisnis/Paulus Tandi Bone

PEKANBARU – Danantara Asset Management (DAM) menilai transformasi berkelanjutan yang dijalankan PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, Sub Holding PTPN III (Persero), telah memasuki tahap eksekusi nyata dan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perusahaan. Sepanjang 2025, PalmCo membukukan laba bersih sebesar Rp6,19 triliun atau sekitar 170% dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Capaian ini dinilai mencerminkan keberhasilan strategi transformasi yang dijalankan secara konsisten dari hulu hingga hilir. Managing Director Business 2 Danantara, Setyanto Hantoro, menyampaikan apresiasi tersebut saat kunjungan kerja perdananya ke PTPN IV Regional III di Riau, Rabu (21/1/2026). Kunjungan dilakukan di Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Pagar, Kabupaten Kampar, bersama Managing Director Risk Management Danantara Riko Banardi, Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa, serta jajaran manajemen regional.

“Transformasi di sektor perkebunan tidak cukup berhenti pada perencanaan. Yang kami lihat di sini adalah konsistensi dan keberanian mengeksekusi perubahan dari hulu hingga hilir. Ini penting untuk mendukung kemandirian pangan dan energi sekaligus kedaulatan ekonomi nasional,” ujar Setyanto. Hal senada disampaikan Riko Banardi. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi sarana bagi Danantara untuk memahami langsung teknis bisnis sawit terintegrasi yang dijalankan PalmCo, sehingga kolaborasi sebagai pemegang saham dapat semakin kuat ke depan. “Saya bangga sekaligus sangat terkesan. Bottom line PalmCo sangat jelas, baik dari sisi output maupun dampaknya. Selain itu, keberhasilan menyeimbangkan digitalisasi, mekanisasi, dan peran sumber daya manusia merupakan capaian penting,” kata Riko. PalmCo saat ini mengelola lebih dari 600.000 hektare perkebunan sawit nasional. Dalam kunjungan tersebut, manajemen Danantara meninjau langsung rantai bisnis terintegrasi PalmCo, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga pemanfaatan limbah sebagai sumber energi baru terbarukan. Kunjungan diawali dari sentra pembibitan Kebun Sei Pagar, salah satu dari tujuh sentra pembibitan sawit unggul bersertifikat di Riau. Fasilitas ini menjadi tulang punggung program peremajaan sawit rakyat yang digulirkan sejak 2021. Hingga kini, sekitar 2,56 juta bibit sawit unggul telah disalurkan kepada lebih dari 8.900 petani. Program tersebut diarahkan untuk memperkecil kesenjangan produktivitas antara kebun rakyat dan perkebunan perusahaan. Dalam proses pembibitan, PalmCo memadukan teknologi dan mekanisasi, seperti sistem irigasi sprinkle, penggunaan drone sprayer, hingga pengembangan penangkaran serangga penyerbuk elaidobius. Digitalisasi juga menjadi pilar utama transformasi PalmCo melalui pemanfaatan aplikasi internal seperti Digital Farming dan Agroview untuk pengendalian biaya serta peningkatan produktivitas. Digitalisasi ini didukung mekanisasi peralatan panen dan perawatan kebun, antara lain grabber dan spreader. Di sektor pengolahan, PalmCo menerapkan teknologi on-site seperti sistem Intank yang memungkinkan pemantauan stok minyak sawit mentah atau CPO secara real time. Setyanto menilai integrasi digitalisasi, mekanisasi, serta penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG terlihat jelas dalam operasional perusahaan. “Ini bukan sekadar retorika, tetapi kerja nyata di lapangan. PalmCo berpotensi menjadi contoh dalam mewujudkan visi Danantara sebagai sovereign wealth fund berkelas global yang menekankan pengelolaan aset negara secara berkelanjutan,” ujarnya. Sementara itu, Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Ia menyebut PalmCo bertumpu pada tiga pilar utama, yakni peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan keberlanjutan, yang dijalankan secara simultan sejalan dengan arahan Danantara dan Kementerian BUMN. Kinerja PalmCo Regional III Riau turut menopang capaian konsolidasi perusahaan sepanjang 2025. Produksi tandan buah segar inti regional ini tumbuh 5,4% menjadi 1,6 juta ton dengan produktivitas mencapai 24,07 ton per hektare per tahun. Produksi CPO tercatat 575.000 ton dengan produktivitas 5,68 ton per hektare per tahun, sementara produksi minyak inti sawit mencapai 115.000 ton. Rendemen CPO berada di level 23,59% atau melampaui target perusahaan. Kontribusi tersebut ikut mendorong produktivitas CPO PalmCo secara nasional yang mencapai 4,70 ton per hektare per tahun, tumbuh 9% dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus mengantarkan perusahaan mencatatkan laba bersih Rp6,19 triliun di 2025. Di tengah tantangan global sektor pangan dan energi, langkah transformasi PalmCo dinilai tidak hanya relevan bagi kinerja korporasi, tetapi juga memiliki arti strategis dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan ekonomi nasional.